Efektivitas Feromon Trap Pada Ketinggian yang Berbeda Terhadap Pengendalian Kumbang Tanduk (Orytes rhinoceros)

Authors

  • Sri Murti Tarigan Budidaya Perkebunan, Fakultas Vokasi, Institut Teknologi Sawit Indonesia
  • Ingrid Ovie Yosephine Budidaya Perkebunan, Fakultas Vokasi, Institut Teknologi Sawit Indonesia
  • Habib Prayitno Budidaya Perkebunan, Fakultas Vokasi, Institut Teknologi Sawit Indonesia
  • Samuel Maruli Silalahi Budidaya Perkebunan, Fakultas Vokasi, Institut Teknologi Sawit Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31941/biofarm.v20i2.5091

Abstract

Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros L.) merupakan hama di kebun kelapa sawit, hama ini tergolong berbahaya karena dapat menyerang tanaman pada fase TBM terutama pada pucuk daun tombak, sehingga jika tidak dikendalikan maka pertumbuhan tanaman bisa terhambat serta tanaman bisa mati. Pada Afdeling II Kebun Adolina terdapat banyak serangan kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) yang mengakibatkan banyak pucuk daun pelepah yang patah di TBM 2. Penelitian ini bertujuan menguji efektifitas dari beberapa jenis ketinggian pada perangkap feromon dalam menangkap Oryctes rhinoceros. Penelitian ini dilakukan pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) 2 di Afdeling II Kebun Adolina PTPN IV. Penelitian ini dilaksanakan di Afdeling II Kebun Adolina PTPN IV waktu penelitian selama 48 hari. Penelitian ini mengunakan metode analisa deskriptif kuantitatif yaitu pengumpulan data di lokasi penelitian. Pada penelitian ini penggunaan feromon trap menjadi 3 jenis ketinggian berbeda yaitu; 1 m, 2 m 3 m. Hasil penelitian ini menunjukkan perangkap dengan ketinggian 3 meter lebih efektif karena mampu menangkap kumbang tanduk lebih banyak dengan jumlah 119 ekor jika dibandingkan perangkap ketinggian 1 meter berjumlah 49 ekor dan 2 meter berjumlah 79 ekor. Dalam penelitian ini perangkap ketinggian 3 meter lebih efektif untuk merangkap kumbang tanduk lebih banyak dibandingkan dengan perangkap ketingian 1 atau 2 meter.

Kata kunci: Oryctes rhinoceros, Femononas, Efektivitas, Ketinggian, Kelapa Sawit.

References

Alouw, C. 2007. Feromon dan Pemanfaatannya Dalam Pengendalian Hama Kumbang Kelapa (Oryctes rhinoceros) (Caleoptera: Scrabaeidae). Buletin Palma, 32,12-21.

Ariska, E., Harahap, F. S., Dalimunthe, B. A., & Septyani, I. A. P. (2022). Pelatihan pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) untuk dijadikan pupuk organik di Desa Tebing Tinggi Pangkatan. E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 13(1), 201-208.

Faisal, 2017. Monitoring Hama Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros L.) Pada Tanaman Kelapa Sawit Belum Mengahasilkan di PT. Barito Putera Plantation. 2(August),17-25.

Ginting., Bobby Febrianto, E., & Pratama, A. 2022. Pengaruh Ketinggian Fruit-Trap pada Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros) di Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq). Agriland Jurnal Ilmu Pertanian, 10(1), 64-67.

Hakim,2018. Kelapa Sawit Teknis Agronomis & Managemen, Jakarta: Media Perkebunan

Handoko, Hafiz Fauzana, A.S. 2017. Populasi dan Intensitas Serangan Hama Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros Linn.) Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Belum Menghasilkan.

Harahap, F. S., Purba, J., & Rauf, A. (2021). Hubungan curah hujan dengan pola ketersediaan air tanah terhadap produksi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) di dataran tinggi. Agrikultura, 32(1), 37.

Lestari, 2020. Pengaruh Ketinggian Perangkap Feromon Dalam Mengendalikan Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros L.) di Perkebunan PT. Herfinta. Jurnal Agroplasma, 7(2), 80-84.

Margolang, R.H. 2022. Agro Estate Jurnal Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit dan Karet. Efektifitas Penggunaan Fruit Trap Berbahan Nanas dan Berbagai Warna Lampu Sebagai Perangkap Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros) Pada Tanaman Belum Menghasilkan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) 6(1).

Marias, 2017. Penggunaan Feromon dan Warna Perangkap Untuk Pengendalian Hama Kumbang. Agromast, 2(1).

Prok, T.P., Tairas, R.W., Kaligis, J.B., & Lengkong, E.F. 2020. Monitoring Hama Kumbang Badak (Oryctes rhinoceros L.) Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Menggunakan Feromon di Kecamatan Mapanget Kota Manado. Jurnal Agrica, 3(3), 1-8.

Walida, H., Harahap, F. S., Hasibuan, M., & Yanti, F. F. (2019). Isolasi dan identifikasi bakteri penghasil IAA dan pelarut fosfat dari rhizosfer tanaman kelapa sawit. BIOLINK (Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan), 6(1), 1-7.

Widodo, A., Saleh, Parinduri, S., Perkebunan, B., & Perkebunan, S.A.2018. Pengaruh Ferrotrap Terhadap Jumlah Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros Linneus.) Yang Tertangkap di Perkebunan Kelapa Sawit. Hasil Penelitian Jurnal Agro Estate, II(2), )0-4

Downloads

Published

2024-11-30