Kajian Pembuatan Pupuk Kompos dari Kotoran Sapi dengan Bioaktivator Mikroorganisme Lokal (MOL) Bonggol Pisang di Desa Lemahbang Kecamatan Sukorejo

Authors

  • Claris Fransiska Tanmenu Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan, Jurusan Pertanian, Politeknik Pembangunan Pertanian Malang
  • Budi Sawitri Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan, Jurusan Pertanian, Politeknik Pembangunan Pertanian Malang
  • Tri Wahyudie Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan, Jurusan Pertanian, Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

DOI:

https://doi.org/10.31941/biofarm.v20i1.4288

Abstract

Permasalahan pupuk menjadi isuh penting karena terkait kebijakan pemerintah dalam membatasi komoditas tanaman yang mendapatkan pupuk subsidi sehingga berdampak pada ketersediaan pupuk bagi petani. Pengurangan pupuk subsidi yang awalnya dari 70 komoditas sekarang menjadi 9 komoditas saja yang diberikan kepada petani. Salah satu langkah Kementan dalam memenuhi kebutuhan pupuk kimia yang semakin berkurang adalah dengan mengoptimalkan limbah ternak maupun tanaman sebagai pupuk organik. Potensi pertanian dan peternakan yang ada di Desa Lemahbang yaitu limbah bonggol pisang dan limbah kotoran sapi. Limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti pupuk kimia, selain itu memiliki banyak manfaat salah satunya adalah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Pupuk kompos dapat diaplikasikan pada tanaman yang dibudidayakan dan dapat menyuburkan tanah. Pembuatan pupuk kompos dari kotoran sapi dengan bioaktivatornya MOL bonggol pisang mudah dilakukan, murah, dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkan kualitas pupuk kompos yang menggunakan MOL bonggol pisang (P1) dengan pupuk kompos yang tidak menggunakan MOL bonggol pisang (P0). Metode yang digunakan pada kajian ini yaitu uji t tidak berpesangan untuk membandingkan 2 sampel yang bebas. Hasil kajian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara P0 dan P1 yaitu nilai signifikansi 0.0003 < 0.05.

Kata kunci: Bioaktivator, Kotoran Sapi, MOL, Pupuk Kompos

References

Aisyah, 2016. Memproduksi Kompos dan Mikroorganisme Lokal (MOL). Bibit Publisher. Jakarta Timur.

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Timur.

[BPS]. Badan Pusat Statistik. 2022. Potensi Pertanian dan Peternakan di Kabupaten Pasuruan.

Broto W, Arifan F, Setyati A. W, Eldiarosa K, Pratiwi. 2019. Pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) Dengan Bahan Baku Bonggol Pisang Sebagai Alternatif Pestisida Organik dan Pengganti EM4 di Desa Bumen, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Seminar Nasional Kolaborasi Pengabdian Kepada Masyarakat UNDIP-UNNES. 284-288.

Budi, N. W. 2015. Pengaruh Rasio C/N Bahan Baku Pada Pembuatan Kompos Dari Kubis Dan Kulit Pisang, Jurnal Integrasi Proses Vol. 5, No. 2, 77.

Daryono, Riama, R. M., Rsmini. 2017. Sifat Fisik Kombinasi Mikroorganisme Lokal Physical Properties Of Local Microor.

Darma S., Ramayana S., Sadaruddin, Suprianto B. 2020. Investigasi Kandungan C Oragnik, N, P, K dan C/N ratio Daun Tanaman Buah Untuk Bahan Pupuk Organik. Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab 3 (1), 12-18.

Ekawandi, N., dan Kusuma, A. 2019. Pengomposan Sampah Organik (Kubis dan Kulit Pisang) dengan Menggunakan EM4. Jurnal TEDC. 12(1), 38-43.

Huda, S., dan Wikanta, W. 2017. Pemanfaatan Limbah Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Organik Sebagai Upaya Mendukung Usaha Peternakan Sapi Potong Di Kelompok Tani Ternak Mandiri Jaya Desa Moropelang Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan. Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 1(1), 26–35.

Karyono, T., dan Laksono, J. 2019. Kualitas Fisik Kompos Feses Sapi Potong Dan Kulit Kopi Dengan Penambahan Aktivator MOL Bongkol Pisang Dan EM4. Jurnal Peternakan Indonesia. 21(2), 154–162.

Kadafi, Muammar, Wiwin Dyah Ully Parwati, and Retni Mardu Hartati. 2023. “Pengaruh Komposisi Media Tanam Dan Dosis Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.).” AGROISTA : Jurnal Agroteknologi 6(2): 120–25.

Kesumaningwati, R. 2015. Penggunaan Mol Bonggol Pisng (Musa Paradisiaca) Sebagai Dekomposer Untuk Pengomposan Tandan Kosong Kelapa Sawit. Jurnal Ziraa’ah Majalah Ilmiah Pertanian. 40(1), 40–45.

Murbandono, H. S. L. 2002. Membuat Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.

Permentan No 261/KPTS/SR.310 2019. Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik.

Pograma Desa Lemahbang. 2023. Pasuruan: BPP Kecamatan Sukorejo.

Sutanto R. 2002. Pertanian Organik, Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Sunarko. 2014. Budi Daya Kelapa Sawit Diberbagai Jenis Lahan. Jakarta: Agro Media.

Sutrisno, E., Wardhana, W., Budihardjo, A., Hardiwidodo, M., dan Silalahi, I. 2020. Program Pembuatan Pupuk Kompos Padat Limbah Kotoran Sapi Dengan Metode Fermentasi Menggunakan EM4 dan Starbio di Dusun Thekelan Kabupaten Semarang. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi. 2(1), 13-16.

Standar Nasional Indonesia (SNI). 2004. Pupuk organik padat. Standar Nasional Indoneisa. Jakarta.

Widawati S. 2005. Daya pacu aktivator fungi asal kebun biologi wamena terhadap kematangan hara kompos, serta jumlah mikroba pelarut fosfat dan penambat nitrogen. Jurnal Biodiversitas.V (6).4: 238-241.Yuwono, D. 2005. Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yuwono, D. 2005. Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta

Downloads

Published

2024-04-25